Tenggelam: Ketulusan Istri Pelaut
Kulepas kepergiannya, seikhlas awan yang meluruhkan dirinya menjadi butiran air hujan.
Saat seseorang yang kuduga sopir atau kondektur bus ini melintas, aku bertanya, “Pak, kapan jalan busnya?”
“Sebentar lagi, Mbak. Nunggu penumpangnya agak penuh.”
Kulihat jam tangan sudah menunjukkan pukul empat. Hari makin sore, jika bus tidak segera berangkat, entah kami sampai rumah pukul berapa. Aku harus tenang. Semoga perjalanan pulang lancar dan selamat sampai tujuan. Akhirnya kami pulang pergi menempuh perjalanan malam. Padahal rencananya hari ini pulang pagi. Biar sampai rumah sore. Memang kadang tak semua hal berjalan sesuai yang kita rencanakan. Sehingga, kuusahakan tetap husnuzon. Bahwa waktu pu