SUJUD TERAKHIR EMAK
Senyum samar muncul di wajahnya.
“Benar, Paklik,” katanya lirih. “Aku juga kadang bingung, kenapa Sita mau repot-repot. Padahal dia bisa saja acuh, toh hidupnya sendiri sudah cukup berat.”
Agung mendekat, menepuk bahu Arman. “Man, itu namanya orang yang hatinya masih hidup. Di dunia sekarang, banyak orang pakai hitungan. Kalau nggak ada untung, ya nggak mau capek. Tapi Mbak Sita lain. Aku yakin, Man, doa orang baik kayak dia pasti nyampe. Kita harus belajar banyak dari beliau.”a