Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya
"Hah? Jalan Karet? Aa, dari tadi aku cuma ke pasar depan beli terigu. Aku nggak pernah kirim pesan apa-apa, apalagi jatuh dari sepeda. Handphone aku saja lowbat di dalam."
Aku menarik napas panjang, mencoba meredam amarah yang kembali mendidih. "Fix, itu jebakan, Ris. Ada empat preman yang nunggu Aa di sana. Untung ada truk lewat, kalau nggak mungkin Aa sudah bonyok. Mereka sepertinya dendam soal kejadian lama."
Risma langsung memegang lenganku dengan gemetar. "Astaga, A... maafkan Risma. Gara-gara Risma, Aa jadi diincar terus."