Setelah Tiga Tahun Berpisah
Ia menghela napas panjang, menyadari bahwa semua itu hanyalah ilusi, mimpi yang terasa begitu nyata.
Di kamar yang gelap dan sunyi, Amira berbaring sambil memandangi langit-langit, mencoba mengingat detail dari percakapan yang terjadi dalam mimpinya. Raka, dengan tato yang menutupi leher dan lengan, suaranya yang tegas namun lembut, kata-kata yang begitu dalam. Semua seolah-olah dirangkai dengan sempurna untuk menyampaikan pesan kepadanya.
“Preman bukan berarti tidak melaksanakan perintah Tuhan, Mira. Kadang yang terlihat baik belum tentu baik, dan yang terlihat buruk belum tentu buruk.”
Hot Chapters