KAU MENDUA AKU PUN SAMA
“Jangan lama-lama, Ra!“ teriaknya. Aku mengembuskan napas. Lalu tersenyum saat dugaan sesuai dengan kenyataan. Setelah membuang sisa metabolisme, aku buru-buru keluar. Menghampiri Mas Hangga yang wajahnya tampak memerah.
“Tidur yuk, Mas. Aku datang bulan,“ ucapku, tersenyum lebar.
“Apa?!“ pekiknya terdengar frustasi. Setelah itu Mas Hangga berdecak lalu meremas rambutnya. Lalu melenggang ke kamar mandi.
Melihat ekspresinya itu, aku tak mampu menahan tawa geli. Antara puas dan kasihan juga karena hasratnya harus tertunda. Tapi di sisi lain, aku dibuat heran dengan mood tetap stabil. Padahal biasanya, setiap kali datang bulan, mood langsung anjlok karena terlalu meratapi takdir. Apa iya, aku s
Hot Chapters