Terjebak Gairah Siluman
Di antara celah kanopi pepohonan yang hitam, seiris bulan sabit yang pucat menggantung rendah, seperti senyum tipis di wajah malam.
"Bulan sabit," gumam Broto, suaranya terdengar berat dan penuh makna. "Beberapa hari lagi bulan mati. Lalu dua minggu dari sekarang, purnama akan tiba."
Broto menurunkan pandangannya, matanya yang tajam menatap lurus ke arah Wulan dalam keremangan. Cahaya dari ponselnya yang ia pegang rendah menciptakan bayangan ganjil di wajahnya yang keras.