Selir Yang Terlupakan
Aroma melati yang samar, bersih, dan menenangkan perlahan memenuhi udara di antara kami.
"Kereta kuda sudah siap menunggu di depan," lapornya.
"Baiklah, mari kita berangkat," jawabku mantap.
Mei Mei membungkuk cepat, matanya berbinar campuran antara kebanggaan dan rasa gugup yang tertahan.
"Tentu, Nyonya. Aku akan berjalan setengah langkah di belakangmu saja. Jaga dagumu tetap tegak, dan pandangan matamu tetap tenang dan teguh."