Renjana
kataku dalam hati, kutahan, kutarik kakiku pelan-pelan, dan akhirnya bebas.
“Bu, tiga bu, tigaaa nasinyaa!” teriakku lagi.
“Nih, dua ya!” kata ibu itu sambil menyodorkan satu piring nasi, lengkap dengan lauknya.
“Lohh, kok hanya satu?” heran aku sama ibu itu, sudah kubilang tiga, malah dikasih satu, terus dia bilang apa tadi? Dua? Dua darimanaaa? Sabar, sabar, sudah lapar tak tertahankan sekarang harus menahan emosi dari segala penjuru lagi, huh.
Sikat na Kabanata