Mabuk Janda
“Ya, membantu Ma, kalau misalnya Mama butuh sesuatu, aku sebagai menantu kan harus sigap membantu. Misalnya Mama lagi sedih ya aku bisa membantu mama, kalau Mama kurang puas, aku bisa memuaskan, Mama.”
“Ih, puas apaan sih, Mas? Kamu mau memberikan kepuasan seperti apa?” Agni bertanya biasa saja. Sok polos. Nadanya juga agak tinggi, seolah-olah menolak.
“Ya, Seperti kepuasan batin, Ma, Setidaknya bisa membuat Mama lebih rileks dan bahagia. Daripada terus-terusan menggunakan dildo. Mama enggak takut apa dibilang kelainan?”