JIWA-JIWA YANG MALANG
Si amin merasa heran.
“Entah lah.” Tanpa menghiraukannya, Kelvin berjalan pada sebuah jembatan, seraya menapaki kaki di atas susunan kayu-kayu jati, sementara pandangannya langsung saja ia menatap lekat-lekat pada sebuah kabut yang menghalangi bayangan semu pada sebuah lereng-lereng perbukitan. Laksana sebuah keindahan yang tersamarkan justru terbentang di depan mata. “Ini negeri perbukitan, kita telah sampai...” gumamnya dalam hati. Maka tambahkan dengan suasana air yang mengalir sebagaimana pemisah antara sungai dan pematang. Kemudian lihatlah kedua tonggak gapura tiada seorang penjaga itu sudah begitu tampak jelas di depan mata, seakan tak percaya, Kelv berjalan memasuki kota itu dan berk
Hot Chapters