Jangan Baca Novel Ini!
"Ma-maaf, Pak! Sumpah saya nggak bermaksud jahat! I-i-itu lubangnya udah ada dari sananya, Pak! Saya cuma iseng, be-be-beneran!"
"Iseng?" Pak Argan mendengus kasar, lalu berjalan mendekati meja kecil di mana laptopku masih terbuka menyala.
Sial beribu sial.
Laptopku menampilkan naskah novel yang semalam lupa kututup karena aku terlalu panik bertatap mata dengan Pak Argan tadi.
"Iseng sampai kamu jadikan tontonan itu sebagai ladang uang, begitu?"