Hatiku direbut Berondong
Tak lama kemudian, Arga kembali dengan segelas air putih, obat penurun panas dan sebungkus bubur ayam kesukaanku.
“Ayo, minum dulu,” katanya lembut. Suaranya berbeda, sama sekali bukan nada jahil yang biasa kudengar.
Dengan susah payah aku duduk, menelan obat itu. Setelahnya, Arga mengambil kain bersih, merendamnya dengan air dingin, lalu meletakkannya di dahiku.
Aku menatapnya, setengah sadar, setengah tak percaya. “Kenapa kamu repot-repot kayak gini, Ga?”
Sikat na Kabanata