Hai Om, Aku Calon Istrimu!
lanjut Oma, “tidak semua wanita itu jahat atau cuma ingin memanfaatkan hartamu. Ada juga yang tulus, yang benar-benar ingin jadi bagian dari hidupmu.”
Ruang makan mendadak hening. Suara jam di dinding terasa lebih jelas dari sebelumnya.
Om Kais menatap Oma, ekspresinya sulit ditebak. “Oma pikir aku terlalu menutup diri?” tanyanya pelan.
Oma tersenyum, tapi senyumnya itu seperti punya makna panjang. “Bukan menutup diri, tapi terlalu lama berdiri di pintu tanpa pernah membuka. Sesekali, bolehlah dicoba percaya lagi.”