DIKIRA MENANTU MISKIN
Aku mengangguk senang, lalu menyerahkan satu set baju gamis pada penjaga toko untuk dibungkus.
“Mau beli apa lagi, Sayang? Oh iya kita beli tas dulu terus kita beli sandal dan sepatu. Kerudung-kerudung kamu juga sudah pada pudar warnanya, sekalian saja. Oke?”
“Bang? Gak salah?”
“Apanya yang salah, Hanza? Terus Abang banting tulang ngurus perusahaan itu buat siapa kalau bukan buat kamu?”
“I-iya deh, tapi kita sekalian saja beli beberapa baju gamis, Bang. Boleh?”