Perawan Untuk Om Duda
“Terserah kalau kamu mau anggap aku gila, Sel. Sejujurnya aku juga nggak mau bicara soal ini, tapi kira-kira kenapa aku takut kamu marah waktu dipeluk Renjani tadi, ‘ya? Mungkin aku juga sedih kalau kamu nggak marah waktu aku sama wanita lain. Aneh, ‘kan?”
Selma memijat pelipis, seraya mengatakan, “Bisa langsung ke intinya aja, nggak? Udah jam makan siang, nih, jam-jamnya otak nge-lag.”
“Je te le dirai plus tard quand j’arriverai en Suisse. J’espère que tu tiendras ta promesse.” Selesai dengan bahasa rumitnya, Panji mengulas senyum dan mendaratkan satu kecupan manis di punggung tangan Selma.