Setelah Istriku Memilih Pergi
Kali ini bukan panggilan, tetapi pesan singkat dari nomor yang sudah lama tidak ia simpan.
[Kamu akan pulang besok, kan? Papa benar-benar butuh kamu.]
Raka menatap layar ponselnya lama, tatapan penuh rasa kesal yang bercampur kebingungan. Sebelum ia bisa memikirkan balasan, suara Sarah memecah lamunannya.
“Mas, kenapa bengong? Masih mikirin telepon dari Papa?” Sarah duduk di sebelah Raka, membawa secangkir teh hangat yang aroma melatinya segera menguar ke udara.