Cinta yang Telah Menjadi Masa Lalu
Kata-kata yang dulu pernah dia ucapkan padaku, kini seperti bumerang yang kembali menusuk dirinya sendiri.
Lagi-lagi, dia memuntahkan darah. Bibirnya membentuk senyum getir.
“Maaf… maafkan aku, Aruna. Waktu itu… kamu pasti merasa sakit dan putus asa sekali, ya? Maaf karena waktu itu aku nggak mempercayaimu…”
Ingatan itu menamparku, saat aku nyaris tewas di depan ruang ICU.
Mataku sembab, tapi aku menegakkan punggung. Tanpa berhenti, aku melangkah melewati tubuhnya, menegaskan jarak antara kami.
Bab Populer