Malam Terakhir di Singgasana
Dia berkata benang itu berasal dari sebuah kuil, dan melilitkan benang itu di pedangnya akan melindunginya dari bahaya dan mengubah kemalangan menjadi keberuntungan.
Kini, benang merah itu telah lama memudar dari warna aslinya. Warna merah tua yang cemerlang itu, setiap kali dia menggenggam pedang, warnanya menyerap dari telapak tangannya ke dalam tubuhnya, menyatu dengan darahnya.
Dalam momen-momen nyaris mati yang tak terhitung jumlahnya di medan perang, hanya karena memikirkan wanita itu, dia dapat menggertakkan gigi dan bangkit lagi dan lagi, mengayunkan pedangnya kembali.