Selir Yang Terlupakan
"Empat tahun, Lianhua. Aku menghabiskannya di lumpur dan darah di garis depan, hampir tak memikirkan hal lain selain berjuang pulang ke istana yang terasa seperti kuburan mewah. Dan setiap kali aku teringat tempat ini... aku teringat padamu. Hanya sebuah nama di dalam daftar panjang, wajah yang hampir tak bisa kuingat lagi bentuknya."
Ia kembali menatapku lekat-lekat, matanya menyiratkan kerinduan yang tak ia pahami sendiri.
"Sekarang Yang Mulia sudah melihatnya sendiri," jawabku pelan. "Saya ada di sini, nyata. Apa lagi yang masih diinginkan Yang Mulia?"