Rahim yang Tergadai
Namun, sebelum Gala bisa membuat keputusan, suara lembut tetapi tegas terdengar dari sudut ruangan.
“Lingga, jangan khawatir. Aku di sini. Ayahmu pasti sembuh, berdoalah. Mintalah kesembuhan pada Allah.”
Kalingga menoleh, dan matanya bertemu dengan Ilman. Laki-laki itu berdiri tidak jauh darinya, dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Sorot matanya hangat, penuh perhatian, berbeda dari Gala yang dingin dan sulit dijangkau.