Petani Terkuat
Rahang Bejo terbuka, bersiap menembakkan kalimat penolakan bernada merendah lagi, namun saat matanya menemukan keseriusan pekat di pupil Retin, kata-kata itu tertelan kembali melewati kerongkongannya.
Bejo menarik napas panjang, mengangguk kaku. "Baiklah... kalau begitu, sebuah kehormatan. Silakan panggil aku Bejo." Ia menggeser tubuhnya sedikit ke samping, memberi ruang pandang. "Ini istriku, Susi. Lalu yang kecil ini putriku, Dina, dan—"
"Dan putra sulungmu, Jaka," potong Retin cepat, suaranya renyah.