Gairah Liar Istriku
Udara asin dari laut menusuk indra penciuman, sebuah pengingat konstan akan isolasi yang mengelilingi. Ombak malam menghantam lambung kapal dengan ritme yang malas dan memabukkan, seperti sebuah bisikan panjang yang tak pernah usai. Di geladak atas, Dita berdiri mematung, tubuhnya diselimuti mantel tebal yang seolah tak mampu menahan dinginnya keraguan. Matanya terpaku pada kegelapan samudra, namun pikirannya berkelana jauh. Perjalanan laut menuju negeri asing ini terasa seperti penjara yang bergerak baginya—lambat, sunyi, dan memberinya terlalu banyak waktu untuk berpikir, hal yang justru paling ia hindari.