Neng Zulfa
sebelum segala suara
Engkaulah lengang tempatku berpulang
Bunyimu adalah senyapmu
Tarianmu adalah gemingmu
Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Dalam hadirmu, keabadian sayup mengecup
Saput batinku meluruh
Tatapmu sekilas dan sungguh
Bersama engkau, aku adalah kepala tanpa rencana
Telanjang tanpa kata-kata
Cuma kini
Tinggal sunyi
Dan, waktu perlahan mati
‘Catatan kecil saat langit kelabu di taman bambu’, begitu tulis Dee Lestari di bawah sajak itu dalam tanda kurung.
Aku menghela napas kecil.
Tepat sebelum jemariku membalik halaman berikutnya, suara Gus Fatih menginterupsi gerakanku.
“Zulfa.”
Hot Chapters