Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Bayang Masa Lalu

Bayang Masa Lalu

tanya Kakek Seno. "Tidak penting aku mengingatnya sekarang atau tidak, yang pasti aku tau kalau mereka adalah orang tuaku," jawab Rama. Setiap perkataannya tegas dan sulit untuk ditebak. Setelah mengatakan hal tersebut, Rama kembali merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Semua yang dia ucapkan seperti tidak keluar dari hatinya. "Aku sedikit lelah, ingin istirahat. Di mana kamarku?" tanyanya beranjak dari sofa.
103.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 96 kali sebagai puisi kenangan masa kecil
Baca
+Pustaka
Siluet Cinta Olive

Siluet Cinta Olive

Ia telah mengkoordinir sembilan orang teman sekelas anggota geng dekil untuk merayakan kelulusan mereka sebagai sukses bersama yang harus dirayakan dan jangan sampai terlupakan. “Malam Senyap Menyergap Kesepianku”, itu salah satu bunyi sub judul dalam laman blog ini. Berisi puisi seronok yang konten kalimatnya makin vulgar dari atas ke bawah. “Sayang, masuklah menyongsongku. Aku sangat kesepian dan merindukanmu. Desakanmu yang meronta, engkau sangat perkasa. Pelukanmu yang makin kuat, kusambut dengan goyangan dahsyat. Oh...aku sungguh menikmati keperkasaanmu, Sayang...,’’ ‘’Mana Di? Nggak ada nomor kontaknya? Kok isinya puisi semua?”Tanya Bayu.
1010.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 392 kali sebagai puisi kenangan masa kecil
Baca
+Pustaka
Magang di hati CEO tampan

Magang di hati CEO tampan

Sebuah kenangan masa kecil yang samar. ​“Tunggu, Mas,” katanya pelan. “Aku… aku sepertinya ingat sesuatu. Dulu sekali, Ayah pernah mengajakku ke sebuah tempat. Katanya mau menengok ‘teman lama’. Tempatnya sejuk, ada banyak pohon pinus, dan ada sebuah rumah kayu kecil yang sederhana di sana. Aku tidak ingat persis di mana, tapi aku ingat perasaannya. Ayah terlihat sangat sedih saat kami pulang dari sana.”
102.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 54 kali sebagai puisi kenangan masa kecil
Baca
+Pustaka
Semua Perempuan Itu Mengejarku

Semua Perempuan Itu Mengejarku

“Benar oom, itu SD saya dulu. “ Gerbang SD itu masih sama. Cat dindingnya mungkin sudah diperbaharui, tapi gerbang itu... papan nama itu... lapangan kecil di dalam yang terlihat dari sela pagar besi... Semuanya masih persis seperti dalam ingatannya. Di sanalah dia pernah menang lomba membaca puisi saat kelas empat. Di sanalah dia pernah menangis ketika ibu menjemput terlambat hanya harus mengurus bisnis keluarga. Di sanalah dia pernah merasa kecil... tapi dicintai. Di sama jugalah kenakalan-kenakalan kecil menyadarkan akan masa kecil itu menyenangkan. Kini, saat dewasa semua terasa rumit. Saat salah, meminta maaf saja tidak cukup. Ada hal lain yang harus dilakukan.
105.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 139 kali sebagai puisi kenangan masa kecil
Baca
+Pustaka
Cinta Sang Preman

Cinta Sang Preman

*** Rasa Aku berkelana melewati rimba aksara, menembus lebatnya kata Aku berenang dalam kubangan gelap dan terangnya pikiran Mencari rasa yang sepat singgah pada manik jiwa Terbang mengikut angin berhembus sampai akhirnya leyap pada batas nyata Luka hanyalah setitik duka yang tersirat dalam kisah semesta Aku pun pergi pada cinta, kuiklaskan diri dalam rengkuhnya Cumbuannya membangkitkan gelora hasrat jiwa, hadirkan selaksa bahagia ** Jadi lagi satu puisi, coba up lagi di medsos. Siap dikritik, daripada harus diam menunggu kabar dari manusia yang mulai menghilang dari peredarannya. [Ta,] Kenzo mengirim pesan [Uyy, dapa, Ken?] [Sibuk 'gak?] [Gak, kenapa?]
104.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 158 kali sebagai puisi kenangan masa kecil
Baca
+Pustaka
Ayo Menikah, Mas Duda!

Ayo Menikah, Mas Duda!

Aroma samar kapur tulis tercium samar, membangkitkan kenangan kelas-kelas kecil di masa sekolah dasar. “Kamu masih ingat taman kecil di belakang rumah nenekmu? Tempat kita sembunyi saat hujan pertama datang? Aku ingat kamu suka melipat daun jambu jadi perahu. Aku menunggu kamu kembali. Tapi kamu hilang. – R” Aster terdiam. Dunia seperti berhenti sejenak. R. Raka. Andre. Semua teka-teki mulai tersambung.
102.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 67 kali sebagai puisi kenangan masa kecil
Baca
+Pustaka
Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya

Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya

Kedua kakinya masih sedikit gemetar, sementara rasa nyeri tumpul terus datang dari perut bagian bawahnya. Namun, ketika sampai di tikungan koridor dan melihat pemandangan di kejauhan, dia merasa seperti jatuh ke gua es. Darah di seluruh tubuhnya seakan membeku. Di bangku panjang itu, Hernan sedang berlutut dengan satu kaki dan menempelkan telinganya ke perut Keiko yang mulai membuncit. "Bayinya nendang!" Keiko tersenyum cerah. "Kak Hernan, katanya bayi yang sering nendang perut ibunya akan lebih pintar lho!"
4.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 118 kali sebagai puisi kenangan masa kecil
Baca
+Pustaka
Om Teman Masa Kecil Ayah

Om Teman Masa Kecil Ayah

Teman masa kecil sekeren ini, tapi ayah tidak pernah membawanya pulang? Pandangan pria itu terus tertuju pada lantai di bawah kakiku, lalu tersenyum penuh arti. "Adik kecil memang terbuat dari air."
9.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 361 kali sebagai puisi kenangan masa kecil
Baca
+Pustaka
Warisan Terlarang: Kontrak Darah 90 Hari

Warisan Terlarang: Kontrak Darah 90 Hari

Suara itu kembali bergema, lebih dekat, lebih intim: "Kalau kau ingin menulis akhir, maka kau harus bayar dengan awalmu sendiri." Tiba-tiba, seluruh ingatan masa kecil Naira—rumah kayu, suara kakek, aroma dupa, tawa ibunya—satu per satu mulai kabur, seperti pasir yang terhembus angin. Naira berhasil menusuk tangan raksasa itu, tapi imbalannya fatal—seluruh ingatan masa kecilnya mulai terhapus.
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 34 kali sebagai puisi kenangan masa kecil
Baca
+Pustaka
Setelah Kamu Pilih Dia

Setelah Kamu Pilih Dia

Lalu berhenti pada sebuah papan kecil bertuliskan: “Beberapa perpisahan bukan untuk dilupakan, tapi untuk disimpan baik-baik dalam laci kenangan.” “Aku tahu kamu yang menulis ini,” ujar sang ibu. “Aku pernah membaca tulisanmu… di salah satu blog sastra yang direkomendasikan temanku.” Dinda menunduk. Ada benjolan di tenggorokannya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
88.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 209 kali sebagai puisi kenangan masa kecil
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status