PERMAISURI YIN
Hingga tega mengirim sang putra yang dingin dan jarang senyum ke perbatasan setelah melewati malam pertama.
Setiap malam, sang permaisuri berdoa agar suaminya kembali dengan selamat. Namun perang, seolah tak pernah berakhir. A Yin ingin menyusul, tapi naik kereta saja ia bisa jatuh sakit.
Di tengah kesepiannya, Li A Yin menemukan pelipur lara dalam seni kaligrafi dan puisi. Ia menulis tentang kerinduannya. Tentang harapan dan ketakutan yang menghantui setiap malam.