Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
TEROR SINDEN GHAIB

TEROR SINDEN GHAIB

Ia menoleh. Langsung ke arah Pelangi. Pelangi tersentak dan membuka matanya. “Dia lihat aku…” suaranya gemetar tipis. Aruna tetap tenang. “Apa yang kamu rasakan?” Pelangi menarik napas dalam. “Bukan marah… bukan takut…” ia berhenti sejenak, mencoba mencari kata yang tepat, “lebih kayak… dia pengen ngomong.”
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 44 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Istri Pengganti Untuk Calon Iparku

Istri Pengganti Untuk Calon Iparku

Bagaimana tidak sepi Pelangi hampir tidak pernah menyalakan tv ia akan menghabis waktunya dengan membaca Alquran dan bunya yang ia tanam di belakang bahkan berapa pohon cape telah tumbuh disana dan berbuah dengan warna-warni. "Wa'alaikumsalam mas, sudah pulang?" Pelangi menyambut kedatangan langit senyum yang ia ukir begitu indah sesaat langit terpesona dengan kecantikan dan senyumnya bibirnya yang ranum berhasil membangkitkan dirinya. "Mas, ini kopinya. Maaf aku membuatnya lagi, aku lihat mas Langit terlihat begitu kelelahan." Ucapnya lirih namun mampu di dengar oleh Langit.
1017.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 460 kali sebagai puisi pelangi
Tampilkan Ulasan (7)
Baca
+Pustaka
Rafli123
Hai, ini adalah buku k'6 aku. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, 5 komen pertama akan mendapatkan kejutan. Selain itu, yuu! Kalian pilih dan dukung. Apakah Pelangi bersama dengan Langit? Atau Pelangi bersama dengan Rizky?
MOON
ide ceritanya bagus, tapi kok banyak sekali miss informasi. kalopun ini sekedar fiksi, plis donk jangan bikin hukum islam asal2an seenak jidat. gak usah sok2an nulis background islami kalo kamu emang gak tau
Baca Semua Ulasan
Nyanyian Berdarah di Konser sang Diva

Nyanyian Berdarah di Konser sang Diva

“Entah kenapa kau harus mengatakan hitam.” “Pelangi hitam.” “Maksudnya?” “Keberagaman warna dari semua yang kau sebutkan tadi memiliki warna dasar hitam yang tersembunyi.” “Memang bisa begitu?” “Semua warna memiliki warnanya sendiri di balik spektrum. Tak ada warna yang benar-benar terlihat seperti apa yang nampak di luar. Seperti aku dan dirimu, Bee... kita sama-sama hitam kelam dan menyakitkan. Namun hitamnya kita memiliki aura ketebalan berbeda. Dan jika disatukan, menjadi warna hitam yang baru...yang berbeda dari dua warna hitam sebelumnya. Itulah pelangi. Pelangi tak selalu memiliki warna indah yang terkumpul dan memencar. Selama warna itu adalah hasil satu kesatuan, maka bisa disebut p
102.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 64 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Pelakor Sebaya

Pelakor Sebaya

"Kami bahagia? Iya, kami bahagia!" Manda dan Pelangi sempat bertatapan. Manda melihat sinar kekecwaan di mata bening yang kini berkaca-kaca. Sebaliknya Pelangi melihat sinar kesedihan di mata sayu sang mami. "Kami bahagia, asal mami bahagia!" Pelangi lantas berlalu dengan setetes air mata yang jatuh menimpa kelopak mawar. Manda melihatnya. Membuat hatinya berdesir perih.
2.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 74 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
MANTAN WITH BENEFIT

MANTAN WITH BENEFIT

────୨ৎ────────୨ৎ──── Aku angin yang menertawakan debu, ketika kuyup hujan memenuhi haribaan. Aku di gantang nelayan menarik perahu, untuk meriwayatkan kisah di tengah samudra. Memilah kata menjadi baitmu, itulah aku. Menghalau jengah, mengusir rindu. Menguliti pelangi untuk mewarnai hariku bersamamu, biar cinta indah sesuai harapku.
103.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 96 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
The World is Sinking

The World is Sinking

Pelangi itu membentang indah di depan mereka, seperti memberikan secercah harapan kalau setelah kesulitan akan ada kebahagiaan yang menanti. Zea terpukau, dia tidak pernah melihat pelangi sedekat ini. Saat kecil Zea sangat percaya kalau pelangi muncul, berarti ada Bidadari yang turun ke bumi. Namun setelah memasuki remaja, Zea tahu itu hanyalah kebohongan belaka. "Semoga setelah kesulitan yang kita hadapi sekarang, ada kebahagiaan yang menanti kita ke depannya." Ucap Zea pelan.
649 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 22 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
PELANGI JIWA

PELANGI JIWA

kata Tina “Gimana ya?” kata Rere sambil berpikir. Mungkinkah Joni mau menambah teman lagi untuk kerja sama.akhirnya Rere berkata kembali,” Nanti biar aku bilang sama suamiku dulu ya,” Akhirnya Rere menceritakan pada Juna tentang keinginan Marni yang ingin bergabung dengan Joni seperti yang telah di lakukan oleh Tina. Juna tidak memberi keputusan setelah di beritahu rere tentang niat Marni tersebbut. Rere pun tidak memaksa Juna untuk menjawab keinginan marni tersebut. Hingga suatu hari, Marni datang ke rumah Rere dan berkata bahwa dia ingin sekali ikut usaha seperti yang telah di ikuti oleh Tina. Juna menjelaskan pada Marni,, “ Maaf bu, tidak semua usaha itu selalu berhasil”
108.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 244 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Istri Pelupa yang Kau Buat Luka

Istri Pelupa yang Kau Buat Luka

"Gitu ya sayang akh!" "KENCENGIN LAGI MAS!" "INI UDAH KENCANG SAYANG KU! AKH! AKH! AHK!" "GITU! IYA! ARH! ANGETIN PERUT AKU MAS!" Anjas lalu mengangkat tubuh Nasya dan menyandarkan tubuh itu di kepala tempat tidur dan masih berjuang untuk memuaskan nafsu malam pertama mereka dan Nasya terus mengerang nikmat, semakin besar suata Nasya, semakin terpancing harian Anjas. Pengantin muda yang terus saja menikmati masa muda mereka. Remasan demi remasan, jilatan demi jilatan dan bahkan keringat mereka terasa lebih dingin.
103.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 70 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Istri Yang Tak Dirindukan

Istri Yang Tak Dirindukan

Yakhruju min-humal-lu'lu'u wal-marjan Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. 23. Fa bi'ayyi ala' i rabbikuma tukazziban Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? 24. Walahul-jawaril-munsya' atu fil-bahri kal- a'lam Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung. 25. Fabi'ayyi ala' i rabbikuma tukazziban
9.4121.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.5K kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Dandelion, Wish, and Wind

Dandelion, Wish, and Wind

sesaat sebelum obrolan panjang mereka ditutup. Selesai mengobrol dengan Nana melalui telepon, Izumi melayangkan pandangannya ke arah jendela. Hujan yang semula turun dengan deras entah sejak kapan kini sudah reda dan langit terlihat biru kembali. Iris obsidian itu membulat ketika melihat sesuatu di luar saja. Dengan cepat Izumi bangkit dari tempat tidurnya menuju tepi jendela dan membuka kacanya. Niji—pelangi! seru Izumi dalam hati. Di langit biru yang cerah pelangi melengkung menghiasi langit sore dengan indahnya. Sudah lama aku tidak melihatnya. Apa pelangi memang selalu seindah ini? batin Izumi takjub.
104.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 108 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status