Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

“Dinda, kamu gambar apa, Sayang?” Dinda tersenyum. “Aku gambar rumah kita, Ayah. Tapi kali ini ada pelangi di atasnya.” “Pelangi?” Dion tersenyum kecil. “Kenapa pelangi?” “Soalnya abis hujan, Ayah. Pelangi datang kalau orang-orang di rumah udah baikan.” Dina dan Dion saling berpandangan. Tak ada kata yang keluar, tapi hati mereka sama-sama bergetar.
825 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 17 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Mentari di Balik Awan

Mentari di Balik Awan

Itu adalah sebuah payung lipat kuning yang sudah lusuh. “Hujannya sudah sedikit reda. Saya pamit pulang duluan, Pak,” kata Lian dan mengembangkan payungnya. “Oh, payung itu?” “Ah, terlihat sedikit lusuh, kan? Ini sebenarnya bukan milik saya. Seseorang meminjamkannya pada saya beberapa waktu lalu. Suatu saat harus dikembalikan, makanya payungnya selalu saya bawa. Apa Bapak punya payung? Mau saya antarkan ke mobil?” tawar Lian yang sedikit merasa bersalah karena Awan harus mendengarkan penjelasannya yang tidak perlu. Awan menggeleng. Ia menunjukkan payung hitamnya pada Lian dan setelahnya gadis itu mengangguk.
103.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 98 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Istri yang Tak Didambakan

Istri yang Tak Didambakan

Celana panjangnya pun ikut basah, tapi tak cukup menjadi alasan bagi Alya untuk beranjak dari sana. Suasana pantai sepi, hanya ada beberapa orang saja di sana mengingat hari sedang terik-teriknya–ditambah pantai tersebut belum banyak orang tau karena baru dibuka beberapa bulan lalu. Perlahan Alya menarik napas panjang, menahannya sebentar dan tak lama menangis. Pundaknya terasa berat ketika Bu Titik merangkul. “Teriak saja biar lepas–tak akan ada orang mendengar,” ujar Bu Titik.
105.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 219 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Sang Penari Pujaan Hati

Sang Penari Pujaan Hati

Sang penari menatap langit-langit rumah sakit agar air matanya tak meluncur deras. Sungguh, di balik gerimis panas melanda, pelangi akan selalu muncul menunjukkan keindahannya. Wandra tak tahan melihat air mata sang istri yang perlahan turun. "Sayang, jangan sedih, dong. Ini, hari bahagia kita." "Aku nggak sedih, Mas. Cuma terharu saja. Andai ayah ad di sini, pasti beliau sangat bahagia."
104.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 117 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Pesona Sang Peri

Pesona Sang Peri

Sebagian orang yang bisa menari, menari mengikuti irama tersebut, mengajak teman maupun keluarganya berdansa bersama, seolah-olah hari itu merupakan hari bersenang-senang sedunia. Panji-panji berwarna-warni yang dikaitkan dengan tali tertaut sedemikian rupa sehingga tampak seperti atap. Udara yang hangat ditambah cuaca yang bersahabat seakan-akan tanda bahwa pernikahan itu memang direstui oleh langit.
109.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 265 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Belahan Jiwa

Belahan Jiwa

Merasa nikmat saat tersiksa, lalu terjebak dalam kumparan nikmat itu, alih-alih berusaha keluar dan pergi. Namun, tidak, ia pernah tersakiti. Dulu sekali. Dengan mudah ia melenggang saat itu. Apa yang membedakan kesakitannya dulu dan kini? Barangkali puisi Lang Leav itu adalah jawabannya. Bahwa ada dua jenis luka. Luka memar dan luka parut. Tiara ingat, ketika baru lulus SMA, ia pernah terjatuh ketika membonceng motor Agung. Adiknya itu baru bisa mengendarai motor, tetapi Bapak sudah membelikannya motor baru.
103.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 133 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
GANTENG-GANTENG PELIT

GANTENG-GANTENG PELIT

Maklum, karena takut mabuk, sebelum perjalanan, anak Romlah itu minum antimo. Dua jam kemudian, mereka sampai ke tempat pernikahan Nur. Nur begitu cantik dengan balutan kebaya putih khas Jawa Barat. Begitupun suaminya begitu tampan dengan blangkon khas Sunda. “Selamat ya, Nur! Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan waromah,” doa selamat tulus dari Wulan diaminkan semua. “Selamat ya, Nur! Semoga bahagia dan romantis sampai tua,” doa Sri yang juga diaminkan semua.
105.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 225 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Sang Pelindung Turun Gunung

Sang Pelindung Turun Gunung

"Jangan terlalu sombong! Begitu Bos Dao tiba, dia akan membuatmu berlutut dan memohon ampun!" Marcus Reed tersenyum dan bertanya, "Bos Dao yang kamu sebut-sebut ini, yang katanya langsung mengayunkan pisau begitu saja, terdengar sangat hebat. Dewa mana dia sebenarnya?" Pemuda bertato itu mencibir. "Bos Dao dijuluki 'Pisau Cepat'. Pisau di tangannya begitu cepat sampai setetes air pun tidak sempat menyentuhnya. Dalam sekejap mata, dia bisa menorehkan delapan sabetan di tubuhmu. Saat dia mulai mengiris orang, kamu masih pakai celana bocor. Prestasi terbesarnya adalah menghabisi satu jalan penuh orang sendirian. Bocah, tunggu saja kematianmu!"
102.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 62 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Rumah Tengah Hutan

Rumah Tengah Hutan

Anehnya, pelangi yang seindah itu, tidak mau menampakkan diri sepanjang masa, merasa masih ada kekurangan untuknya. “Soal pelangi, apakah kamu setuju bahwa dia indah?” tiba-tiba aku angkat bicara setelah adegan berbahaya tadi. “Setuju, dan juga kurang setuju.” “Setujunya?” “Dia indah, perlu perjuangan untuk mendapatkannya. Bayangkan, dia akan muncul setelah hujan, dan matahari harus bersedia menunggu. Jika matahari meninggalkan hujan, maka pelangi tidak akan muncul. Itulah yang aku namakan dengan perjuangan. Matahari yang panas, harus rela mengalah dengan hujan untuk sebuah kemenangan.”
8.99.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 207 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Pelangi atau Senja

Pelangi atau Senja

“kok pelabuhan sih Ar, jangan mengada-ada kamu.” “Iya perempuan itu pelabuhan tempat berlabuh hati, sejauh apa pun kapal berlayar ia akan kembali di mana ia tempat berlabuh sama halnya manusia jika ia adalah tempatnya berlabuh sejauh apa pun pergi pasti akan kembali,” jelas Aryan “Apa kamu sekarang sedang berlayar dan akan kembali?” “Aku berlayar tapi belum ada tempat berlabuh.”
2.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 76 kali sebagai puisi pelangi
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status