Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Kenikmatan Di Kelas Bisnis

Kenikmatan Di Kelas Bisnis

“Di sana ada mahasiswa polos, bos besar yang dingin, bule tampan… Semua yang bisa kau bayangkan ada di sana. Nggak ada yang gak ada di sana.” Melihat wajah Stella yang merah merona penuh vitalitas, aku tak bisa menahan rasa bingung. Aku pun pernah naik kelas bisnis sebelumnya. Pramugaranya memang tampan, tapi tak sampai seheboh yang dia gambarkan, kan?
98.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.4K kali sebagai puisi tentang kelas
Baca
+Pustaka
Rest Area

Rest Area

Yang biasa mampir itu geng k-pop yang terdiri dari tiga personil; geng dangdut terdiri dari empat personil; geng JD yang datang cuma satu orang dari delapan personil; dan yang terakhir geng tak bernama yang terdiri dari aku, Niara, dan Disa. Empat puluh empat murid di kelasku memang berkubu-kubu. Namun, kalau sudah menyangkut PR dan sejenisnya, kami pasti bersatu. Kalau ada masalah yang menyangkut kelas, kami juga siap membela. Mei lalu, salah satu murid di kelasku juga punya masalah dengan salah satu guru. Masalah lainnya muncul, mengakibatkan kami berselisih paham dengan kelas sebelah. Aku dapat melihat emosi tiap orang di kelas. Mereka membalas semua nyinyiran kelas sebelah yang pro terha
1011.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 300 kali sebagai puisi tentang kelas
Baca
+Pustaka
Jenderal Naga Perkasa

Jenderal Naga Perkasa

Seluruh mobil itu hanya seharga satu ban dari mobil mewah lainnya dari kelas dua. Orang-orang dari kelas dua memandang dua puluh atau lebih orang dari kelas satu dengan jijik. "Orang-orang dari kelas satu sepertinya tidak ada yang sukses." Seseorang dari kerumunan mengejek. “Ya, mereka semua sangat miskin. Aku bertanya-tanya mengapa Quincy mengundang kelas satu?” Orang-orang dari kelas satu ingin membantah tetapi tidak memiliki kepercayaan diri untuk melakukannya.
9.990.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.6K kali sebagai puisi tentang kelas
Baca
+Pustaka
Pembalasan Berkelas Istri Tak Sempurna

Pembalasan Berkelas Istri Tak Sempurna

"Aku rasa pembicaraan kita sudah selesai, Fahri. Silahkan bawa pakaian ini kembali ke rumahmu. Aku tidak sudi memakai pakaian pemberian istrimu. Dengan memberikan barang murahan ini, secara tidak langsung ia sudah menghina Mama. Dia sudah menunjukkan kelasnya. Dia kelas murahan....." "Siapa sebenarnya yang berkelas murahan?" ejek Fahri. "Seseorang yang tidak pandai menghargai pemberian orang lain, bukankah itu murahan namanya? Seseorang yang berkelas pasti menghargai pemberian orang lain walaupun hanya selembar serbet." Lelaki itu akhirnya berdiri. Benar, tak ada gunanya ia meneruskan melayani ucapan ibunya.
7.880.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.7K kali sebagai puisi tentang kelas
Baca
+Pustaka
Miskin itu Memalukan

Miskin itu Memalukan

Miskin itu Memalukan 18 PoV Fatma Bertemu Mantan Pulang dari mengantar undangan pernikahan Ufi ke tetangga dekat , aku berjalan pulang. Nggak enak juga sih, ngundangnya mumpet-mumpet. Gimana lagi, jatah undangannya terbatas. Ufi cuma ngasih sedikit jadi aku harus putar otak siapa saja yang layak aku panggil. Pastinya akan mengundang gunjingan orang yang tidak aku kasih undangan. Dikiranya aku sombong karena besanan dengan orang kaya, padahal aku ini nggak mantu sama sekali. Semua dibiayai pihak lelaki.
9.35.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 115 kali sebagai puisi tentang kelas
Baca
+Pustaka
Perangkap Cinta Sang CEO

Perangkap Cinta Sang CEO

Sampai akhirnya ia terpikir untuk membacakannya puisi. "Aku menulis sebuah puisi saat pertama kali aku melihatmu di kelas yang sama denganku, kelas Bahasa Perancis. Apa kamu mau mendengarnya?" tanya Aidan saat Dokter tengah melakukan irisan pertama. "Apa kamu masih ingat puisinya?" tanya Malikha tak merasa sakit dan terus memandang Aidan. Aidan mengangguk.
8.823.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 811 kali sebagai puisi tentang kelas
Baca
+Pustaka
Aku Tak Sepolos Yang Kalian Kira

Aku Tak Sepolos Yang Kalian Kira

ucap Silvi, menghampiriku yang tengah menjemur baju. "Aku capek, Sil," balasku tak mengalihkan pandangan. Biar dia tahu, bagaimana rasanya dihiraukan. "Capek gimana, sih Mbak. Tiap hari juga dirumah terus, kerjaan cuma itu-itu aja. Mas Hilman itu sudah kasih makan dan tinggal disini. Sudah seharusnya Mbak mengerjakan semuanya! termasuk milikku yang kotor!" sungutnya, wajah ketusnya semakin membuatku terasa panas. Aku menghentikan aktifitasku, kubalas tatapan Silvi dengan sinis. Niat hati ingin memberi pelajaran biar sadar, eh, malah nglunjak. Memang harus dilawan ipar model begini.
2.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai puisi tentang kelas
Baca
+Pustaka
Fantasy World

Fantasy World

“Apaan dah, hewan ternak kaya gitu aja ditakuti. Bahkan dia mati oleh serangan elemen api yang lemah. Apa bedanya dengan para serigala lemah itu coba” Tidak setuju dengan komentar si anak kelas 7 itu. Seorang laki-laki paling tinggi diantara anggota kelompok kelas 9 maju dan berdiri di hadapannya. “Woy kelas 1, bicara apa kau ini. Tidakkah kau lihat Tia hampir celaka tadi?”
9.86.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 267 kali sebagai puisi tentang kelas
Baca
+Pustaka
DEATH

DEATH

Porter tertawa sambil memandang rendah dua orang siswa yang sedang meringkuk kesakitan di bawah kakinya. Di akademi sihir tiap tingkatnya terdiri dari tiga kelas yaitu kelas A yang berisikan para bangsawan kemudian kelas B yang isinya adalah anak dari prajurit atau yang bekerja di pemerintahan tetapi bukan bangsawan dan yang terakhir adalah kelas C yang isinya adalah anak dari rakyat biasa. “Bukankah ini juga berlaku untuk dirimu.”
103.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 113 kali sebagai puisi tentang kelas
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status