Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Kinari dan Benang Waktu

Kinari dan Benang Waktu

bisik Lucia, “ayomannya berubah. Ia sama saja di televisi; ramah, fasih. Namun di lapangan, massa mulai… mengantuk. Marah menjadi toleransi, jerit menjadi gumam. Para pejabat yang menolak kini menyetujui, para pembangkang mendadak bijak, dan mereka yang berteriak paling keras besoknya meminta maaf. Aku bukan teolog, bukan ilmuwan. Tapi ada satu yang kupahami: realitas yang biasa menolak, mulai mengangguk jika ayahku berbicara.”
946 viewsOngoingIdinagdag sa Library 29 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Aku Tak Mau Penebusan yang Terlambat

Aku Tak Mau Penebusan yang Terlambat

Aku juga tak merasa kecewa karena ia tak melihat luka-lukaku. Aku hanya menunduk dan menjawab pelan: “Maaf.” Padahal, bukan aku yang ingin seperti ini. Aku tak ingin ditipu agar meminjam uang ke rentenir. Tak ingin dipukuli habis-habisan dan ditendang seperti binatang, tak ingin dipaksa menampar diri sendiri, tak ingin diikat dan ditinggalkan seperti anjing di sudut ruangan, dan aku sungguh tak ingin dipaksa menjilati makanan dari lantai seperti hewan.
6.8K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 249 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Tersesat Dalam Pelukan Musuh

Tersesat Dalam Pelukan Musuh

Di tengah semarak panggung dan tepuk tangan, takdir sedang menulis naskah rahasianya sendiri. Dan naskah itu dimulai… dari panggung seni yang seharusnya jadi ajang hiburan. Tapi justru menjadi panggung awal kehancuran hati. Malam itu, Banyu mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal. Isinya: foto Diajeng yang sedang duduk sendirian di perpustakaan, dengan caption: > “Kalau kau berani, kita main adil. Aku sudah siapkan panggungnya.”
919 viewsOngoingIdinagdag sa Library 33 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

tanya Sita seperti tak sabar saat Bumi berhenti untuk menyesap dulu rokoknya. "Di antaranya ada puisi untuk perempuan yang tak begitu kukenal, tapi cukup sering kulihat di kampus. Ada juga puisi untuk perempuan yang kemudian jadi istriku... sekarang sudah jadi mantan istri. Dan...," Bumi menoleh sebentar ke wajah Sita, lalu melanjutkan dengan suara pelan tapi mantap, "ada pula puisi yang kutulis untuk Teteh."
1011.1K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 276 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Pernikahan Dadakan dengan CEO

Pernikahan Dadakan dengan CEO

Yohanna menambahi. “Nggak usahlah urusin keluarga orang lani. Yang penting keluarga kita sendiri aman sentosa, nggak perlu ribut sampai berselisih kayak keluarga lain. Yohanna, kita harus belajar untuk lebih toleransi. Nggak perlu terlalu perhitungan. Makin kita perhitungan, yang ada makin mengundang masalah. Toh kita semua kan satu keluarga. Lebih baik satu keluarga saling akur, bukan? Apalagi anggota keluarga kita yang cowok sedikit, jadi kita harus lebih erat. Kalau sesama keluarga malah ribut, yang ada kita jadi bahan tertawaan orang lain. Nantinya orang lain nggak perlu bertindak pun, kita sendiri yang hancur dari dalam karena konflik internal, habis itu dimanfaatkan sama mereka, deh.”
9.55.5M viewsKumpletoIdinagdag sa Library 207.2K Beses bilang puisi toleransi
Ipakita ang mga Review (863)
Read
+Library
Mawar Merah
cerita ini alur ceritanya bagus,aq jg suka,tokoh dalam bacaan Olivea dan Stefen bkn penasaran,tapi sayang tdk biaa langsung baca,hrs beli koin,padahal gk tau caranya bagai manacaranya bisa baca tanpa hrs beli koin,smg apa yg kuhatapkan dikabulkan,jadi bisa baca ceritanya gak terputus bs sampai akhir
Sumarni Wati
ceritanya menarik sekali cuma harus beli koin terus mahal.. saya sudah habis lebih dari 1 juta belum selesai juga novelnya.. alangkah lebih baik jika konsumen dikasih reward yang lebih besar karena sudah setia mengikuti good novel. biar tambah banyak pelanggan setia nya... semangat penulis..good job
Basahin ang Lahat ng Review
Hasrat Pernikahan Suami Arogan

Hasrat Pernikahan Suami Arogan

“Tapi itulah dirimu! Kau ingin dipahami, tetapi tak pernah berusaha memahami!” “Kau sudah tahu seperti apa diriku!” “Jangan lupa bahwa setiap orang memiliki ambang batas toleransi. Aku sudah lelah. Oleh karena itu, aku ingin kita bercerai.”
107.6K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 279 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Istri Galaknya Om CEO

Istri Galaknya Om CEO

Haidar chat kasih puisi: Wanitaku, Sayang! Rahim yang Kugali Kini Telah Tertali Aduan Nafsu Menganga Doa dan Cinta pun Berbunga Tubuh yang Kuraba Kini Hangatnya Mengaba Tersingkir dari Angin Membunuh Gemuruh Dingin Qobiltu yang Menjadi Janji Kini Telah Kuhempas dari Ruji Menjemput Pagi
104.9K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 97 Beses bilang puisi toleransi
Ipakita ang mga Review (45)
Read
+Library
Laras_7779
Nurilhuda, Syamsiddhuha, Badridduja, kembar tiganya Abi Ibu yang pengen aku bawa pulang. Kakak Uda pinter bikin salting, Abang Uha vibesnya bawa ketenangan, Adik Uja si paling nggemesin sedunia. Lengkap deh kalian ini
Arsyi An
Cinta banget baca novelnya Kak Azizah. Dewasanya Haidar menggemaskan, ia menasihati, tapi juga intropeksi. Part favoritku: Wanita itu rumah untuk lelakinya. Rumah akan rapi jika yang punya peduli, rumah akan nyaman jika yang punya beriman, rumah akan terang jika yang punya tak lupa kasih sayang
Basahin ang Lahat ng Review
Jeritan yang Tak Terdengar

Jeritan yang Tak Terdengar

Sinar bulan menerangi wajahnya, membuatnya terlihat seperti ilusi. Debur ombak yang menghantam pantai terdengar begitu jelas di malam yang sunyi. Hatiku rasanya seperti tertimpa batu besar, sangat menyakitkan. Setelah waktu yang sangat lama berlalu, Ibu membuang ponselnya ke dalam laut. Lalu dia memberiku uang dua puluh ribu, memegang bahuku dan berkata padaku. "Yolanda, tolong belikan Ibu sebotol air, ya?"
8.4K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 295 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama

ia menghilang saat mentari turun dari peraduanya tak sanggup ku kepakkkan kembali sayap ini ia telah patah… tertusuk duri duri yang tajam… hanya bisa meratap… meringis… mencoba mengapai sebuah pengangan…" Kak Citra membacakan puisi dengan penuh penghayatan. Musik masih mengalun pelan di sampingnya. Kak Citra seakan-akan bisa memboyong piala juara jika dia ikut kompetisi. Namun tidak dilakukannya. Dia tahu, dia memang sebagus itu. Kahlil Gibran adalah idolanya.
1015.1K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 587 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Hati yang Terbagi

Hati yang Terbagi

"Tetap ini sudah keputusan terakhir Ubay, Ma. Jika saat ini Mama tega kepada Alina. Ubay yakin akan ada Aina-aina lain yang akan membuat Mama kembali menyakiti istri Ubay," Mama terdiam, sedangkan aku berlari mengikuti masih Ubay. Berusaha membujuknya agar tidak kasar kepada Mama, walau sebenarnya aku juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi, memaafkan jauh lebih baik. "Tak ada toleransi lagi, Sayang. Besok kita akan menempati rumah ini. Mas akan meminta orang untuk membersihkannya. Karena ini terlalu banyak debu dan kotoran,"
10193.2K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 5.6K Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
PREV
1
...
45678
...
10
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status