Mencintai Suami Adikku
Kedua kalinya dia menyodorkan lontong sayur di tangannya, lalu mengukir senyum lebar yang sepertinya menjadi andalannya.
Sedikit memaksa yang membuatku merasa tidak nyaman. “Enggak deh, Bang. Saya juga sudah beli, nih!” Aku mengangkat tangan dan memamerkan plastik bening yang berisi tiga bungkus lontong sayur lengkap dengan kerupuk dan gorengan yang masih hangat.
“Aduh, Kak. Kalau enggak diterima, mau saya bawa kemana ini lontongnya? Kak Wulan biasanya juga suka kok, terima lontong dari saya. Terima ya, Kak?” bujuknya lagi.