Rasaku Ditelanjangi
“Lima belas menit yaa..”
Aku mengangguk. Tak perlu kata lain.
Lima belas menit.
Waktu yang terlalu sebentar untuk memuaskan rindu, tapi terlalu lama untuk disebut khilaf.
Kami tidak melepas seluruh pakaian. Tapi kami melepas rasa sungkan, dan membiarkan pelukan menjadi bahasa utama. Di ujung ranjang yang tidak terlalu empuk, kami membiarkan tubuh kami bersandar satu sama lain, saling menyentuh, saling mengingat bentuk dan aroma yang selama ini tersembunyi.