Wanita Rebutan
Ia tak bisa mengubah masa lalu, tapi mungkin ia masih bisa melakukan sesuatu untuk menebusnya.
Untuk pertama kalinya sejak vonis dijatuhkan, Taher meminta pena dan kertas. Ia mulai menulis, menuangkan segala penyesalannya ke dalam kata-kata. Bukan untuk meminta maaf kepada dunia, tapi untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa kesalahan sebesar apa pun tak bisa dibiarkan tanpa pertanggungjawaban.
Ketika seorang napi tua melewati selnya dan bertanya apa yang sedang ia lakukan, Taher hanya tersenyum kecil dan berkata, “Aku mencoba mengingat, agar aku tidak lupa betapa hancurnya aku dulu.”
Hot Chapters