SUMPAH PELAKOR
Satu dengan rasa takut kehilangan kekuasaan, satu lagi dengan ambisi untuk diakui.
Di meja samping ranjang, jam digital menunjukkan pukul 01:17. Di ponsel Anita, satu notifikasi muncul. Rusyana baru keluar dari Bandara Soekarno-Hatta. Ia mematikan layar ponsel, lalu memeluk Darmadi lebih erat.
“Besok pagi, aku sarapan di sini. Om yang pesan. Kopi, croissant, dan jangan lupa satu lembar tanda tangan dari direktur utama untuk transfer ke akun asing.”