Pesta Pembuahan
Tuhan tidak mungkin membiarkanku terkunci samalaman bersama El, aku yakin tidak akan.
Aku lalu berjalan gamang menuju sofa single, duduk tegap sembari mengusap-usap lenganku sendiri. Aku memindai setiap sisi di tengah keheningan dan baru menyadari bahwa ruangan sedingin kutub utara ini dikhususkan sebagai ruang baca. Setidaknya ada lima rak kayu setinggi dua meter yang dipenuhi buku, dua meja bundar yang dikelilingi empat buah kursi kayu jati, pintu, nakas, lampu kuning temaram di tengah plafon dan tanpa jendela. Dinding dan lantainya seperti dilapisi oleh karpet kedap suara.
“Kamu sedang apa?” El menginterupsi kesibukanku mengeksplor ruangan.