Jangan, Mas. Nanti Ketahuan!
Ruangan itu dipenuhi oleh rak-rak kayu tinggi menjulang yang berjejer rapi hingga menyentuh langit-langit, menampung ribuan jilid buku layaknya sebuah perpustakaan pribadi yang mewah dan sunyi.
“Mari, Mas Indra, silakan duduk dulu. Saya siapin minumnya ya,” ucap Wati sigap, langsung melangkah menuju lemari es kecil yang berada di ujung ruang baca mewah tersebut.
“Terima kasih banyak, Mbak Wati,” sahut Indra. Sepasang netranya masih bergerak dinamis, mengagumi ribuan deretan buku yang tertata rapi di sana.
Hot Chapters