Malam Pertama Sang Istri Kontrak
“Aku juga kaget bisa nulis lagi, Mas. Rasanya kayak buka jendela setelah lama ditutup.”
Arga berhenti bekerja, duduk bersila di depannya. “Boleh aku baca?” tanyanya pelan. Aisyah menutup bukunya sebentar. “Belum selesai.” “Justru itu,” jawab Arga sambil tersenyum, “aku pengen tau gimana rasanya baca tulisan yang masih hidup, belum selesai.” Aisyah terdiam sesaat, lalu menyerahkan buku itu. “Jangan diketawain ya.” Arga menerima, membukanya hati-hati. Tulisan tangan Aisyah halus dan rapi. Ia mulai membaca pelan:
> “Kadang, rumah bukan tempat kita dilahirkan, tapi tempat di mana kita berhenti berlari. Tempat di mana kita bisa menangis tanpa disalahkan, dan tertawa tanpa ditanya kenapa.”
Hot Chapters