Rasaku Ditelanjangi
Serangkaian ciuman kecil diselingi helaan napas yang berat, menciptakan simfoni lembut yang hanya bisa dimengerti oleh tubuh yang merindu terlalu lama.
“Hmmmh…” desahku lirih di antara sela bibir yang terhisap pelan. Helaan napas Arga membalasnya, hangat dan dalam, menggetarkan rongga dada mereka yang nyaris bertaut.
Tangan Arga melepas seatbeltku yang masih terpasang, kemudian dengan tangannya meraih tubuhku agar mendekat. Menyentuh pipi, mengusap pelan sisi wajahku yang memanas, seolah mengingat bentuknya. Jemarinya lalu bergerak ke belakang kepala, menyibak rambutku, mengelus tengkuknya dengan penuh rasa. Ia menarik rambut itu perlahan—lembut tapi menguasai, membuat napasku tertahan seten