Maaf Mas, Keponakanmu Jauh Lebih Jantan
"Apakah... apakah kamu terpaksa bertunangan denganku, Pak? Aku sebenarnya sadar diri dengan posisiku. Tapi rasanya tidak enak kalau harus menolak niat baik dari Ibu Sofia yang sudah begitu sayang padaku..."
Angger menghentikan gerakan tangannya di dasi. Dia melirik Yuni sekilas dari pantulan kaca cermin dengan tatapan dingin yang sulit diartikan.
"Pokoknya terserah kamu," pangkas Angger dengan nada suara malas dan acuh tak acuh. "Kalau kamu suka, ya aku juga suka."
Tanpa menunggu balasan lagi dari Yuni, Angger memutar tubuhnya untuk berbalik melangkah pergi.