Semoga Dia Sebebas Angin
“Aku Lestari, teman Ajeng, yang merupakan ibumu.”
Dia meraih lenganku, mengamatiku dengan saksama, matanya langsung berkaca-kaca.
Melihat ekspresi terkejutku, dia dengan susah payah menenangkan diri.
“Maaf, aku sedikit mengejutkanmu, Sabrina, ya? Apa kamu punya waktu luang sekarang? Atau, jika kamu punya waktu luang, bagaimana kalau kita makan bersama dan mengobrol? Tante punya banyak hal yang mau diceritakan kepadamu.”