Tumbal Purnama
Di ambang pintu, bayangan tinggi dengan mata merah menyala muncul, tubuhnya seperti kabut yang berputar-putar.
"Kalian tidak bisa melawan," suara makhluk itu berbisik, tajam dan dingin. "Purnama berikutnya, dia akan menjadi milik kami."
Lila berteriak, memeluk Arga lebih erat, sementara Bima mengayunkan parangnya ke arah bayangan itu. Tapi parang itu hanya menembus udara kosong. Bayangan itu lenyap, meninggalkan suara tawa yang menggema di seluruh ruangan.
Hot Chapters