Petani Terkuat
Entah bagaimana, itu membuat Jaka kembali terpaku sesaat.
“Namaku Andini,” katanya. “Pebisnis kecil-kecilan.”
“Pebisnis kecil?” Jaka spontan melirik Barak dan empat pria lain di belakangnya.
Dari sudut mana pun, mereka jelas bukan pengawal biasa. Tubuh mereka terlatih, cara berdiri mereka rapi, dan mata mereka tidak pernah benar-benar lengah. Orang seperti itu tidak mungkin murah. Bahkan tanpa tahu dunia bisnis, Jaka bisa menebak bahwa wanita di depannya tidak sesederhana ucapannya.