Istana Yang Ternoda
Pensil arang di tangannya menari tenang, menggoreskan bentuk wajah yang sangat ia kenal, sangat ia cintai—wajah ayah dan ibunya.
Gambarnya begitu rinci. Ada kehangatan dalam garis-garis wajah Kania, mata yang teduh tapi menyimpan banyak luka yang telah dijahit sendiri. Sementara sketsa Rafasya—tegas, hangat, dan penuh harapan. Narendra mengusap sedikit bayangan di bawah mata ibunya, lalu meletakkan pensilnya dan menatap kedua gambar itu dalam diam.
Paginya, ketika mereka semua duduk di ruang keluarga, Narendra berjalan ke arah mereka dengan membawa buku sketsanya.
Hot Chapters