Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
MAAF, ANAK IBU CUMA GURU SD!

MAAF, ANAK IBU CUMA GURU SD!

Dulu ketika tengah membuat skripsi dia membeli satu rim untuk coba-coba. Aluna tepekur menatap kertas kosong yang tergeletak di depannya. Perlahan jemari lentiknya mengambil pensil. Dia pun lekas menggerakkan jemarinya membuat goresan-goresan. Tak butuh waktu lama ketika sebuah sketsa wajah tercipta. Aluna menatapnya, kedua alisnya saling bertaut tak paham. Bagaimana bisa otaknya begitu baik merekam wajah pemuda itu. Tampak mata elangnya dengan hidung bangir yang membuat parasnya tampak menawan. Aluna menatap wajah yang samar terbentuk itu dan tersenyum, perlahan jemarinya menyusuri setiap garis rahang yang terukir. Ada kesan tegas tertera dalam goresannya.
10117.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.6K kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)

Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)

Sky menatap halaman itu… dan terdiam. Sebuah sketsa wajah. Bukan sembarang sketsa. Sky mengenali wajah dalam gambar itu. Bian– tersenyum. Senyum yang… jarang sekali Sky lihat meskipun ia dan Bian sudah berbagi meja selama beberapa bulan ini. Dalam sketsa itu Bian terlihat lembut dan hangat, seolah Bian yang pendiam itu punya sisi lain yang tak pernah Sky lihat.
103.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 125 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Lima Tahun Sebelum Tragedi Pernikahanku

Lima Tahun Sebelum Tragedi Pernikahanku

sapa Saka. Jason langsung tersenyum melihat kehadiran Saka. Ia segera menunjukkan buku gambarnya ke arah Saka. Saka langsung terkejut saat melihat apa yang digambar Jason di sana. Ia melihat sketsa sebuah keluarga kecil, ayah, ibu dan seorang anak. Mereka jalan bertiga saling bergandeng tangan. “Siapa itu?” Saka kembali bertanya, meski dia menyadari pertanyaannya ini pasti akan menyentuh hatinya.
1071.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.3K kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Bos, I'm Pregnant!

Bos, I'm Pregnant!

seru Sefan bangga, menunjukkan lembaran kertas gambar ke hadapan Fara dan Sean. Di atas kertas itu, tergores gambar empat sosok manusia dengan bentuk khas anak-anak. Ada sosok tinggi besar bertuliskan *Papa*, sosok berambut panjang *Mama*, sosok anak lelaki kecil *Sefan*, dan satu sosok sangat kecil berupa bulatan di dalam perut mamanya bertuliskan *Adik*. Sean tertegun menatap gambar sederhana itu. Lengannya otomatis merengkuh bahu Fara, menarik kepala istrinya untuk bersandar di dadanya.
9.821.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 819 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Tahanan di Ranjang Sang Letnan

Tahanan di Ranjang Sang Letnan

Wiratama. Cempaka menelan ludah. Ia tidak asing dengan pola seperti itu. Ayahnya selalu membuat sketsa ketika kata-kata terlalu berbahaya untuk ditulis lengkap. Sketsa berarti kebenaran yang belum siap dibuka, tapi terlalu penting untuk dilupakan. Ia menyentuh lingkaran itu dengan ujung jarinya, lalu menutup map perlahan. Jadi ini alasannya.
104.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 88 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa

Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa

Di pangkuannya, terbentang sketsa wajah Elbara dan Elzen yang sedang digambar Abigail. "Bentuk mata Paman Elzen lebih sipit sedikit, Sayang. Paman Elbara punya garis rahang yang tegas. Jadi, harus lebih kotak di bagian dagu. Lihat, seperti di foto ini," ujar Moza lembut, menunjuk foto di ponsel. Tangannya yang lincah memegang krayon dan membantu Abigail mengoreksi beberapa detail. Ia memperbaiki garis alis dan sudut mata, membuat gambar buatan Abigail semakin hidup dan mirip.
10135.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.1K kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Di Ambang Gila

Di Ambang Gila

Dia meraih buku sketsa yang penuh coretan dari bangku yang berantakan. Dia mulai menggambar. Bukan dengan amarah, tapi dengan intensitas yang menakutkan. Garis-garisnya pasti, terukur. Yang muncul bukan wajahnya sendiri atau monster-monster imajinasinya, melainkan sebuah wajah dengan fitur-fitur tajam, mata yang terlihat terlalu mengerti, dan sanggul yang rapi. Dia menggambar Elara. Tapi dia tidak menggambar senyumnya. Dia menggambar tatapannya yang analitis, dan di sekelilingnya, dia mulai membuat garis-garis yang menyerupai diagram sirkuit atau mungkin peta pikiran—sebuah sangkar dari kecerdasan dan kontrol. ---
1.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 24 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Satu Malam Bersama Adik Suamiku

Satu Malam Bersama Adik Suamiku

Dari ruang tamu, sayup-sayup terdengar suara televisi yang menyiarkan berita, dimana Adrian tampak rileks tergelar di sofa. “Bunda, menurutmu gambar ini bagus nggak?” Aruna memotong keheningan, sambil mengangkat lembaran sketsanya itu tinggi-tinggi. Ayla menoleh, matanya berbinar melihat gambar simpel yang menggambarkan tiga sosok—dua orang dewasa dan seorang anak—yang berdiri ceria di depan rumah kecil yang dikelilingi taman bunga. “Wah, ini bagus sekali, Sayang,” puji Ayla, sambil tersenyum lebar. “Ini kita semua, kan?”
2.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 90 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Anak Kembar Empat si Presdir Dingin

Anak Kembar Empat si Presdir Dingin

Naomi tertegun sejenak, lalu menjawab, "Aku nggak yakin. Aku harus tahu usia orang yang menggambar sketsa ini." "Bagaimana kalau orang itu seumuran kita?" tanya Caden. Naomi menyahut, "Kalau begitu, orang di sketsa ini pasti wanita dewasa, bukan anak perempuan. Lihat postur tubuh wanita ini, sudah jelas bukan anak-anak. Orang seumuran kita nggak mungkin punya anak sebesar ini." Caden bertanya lagi, "Jadi, apa hubungan wanita ini dengan orang itu?"
9.51.0M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 37.0K kali sebagai sketsa wajah orang tua
Tampilkan Ulasan (177)
Baca
+Pustaka
Adelia
Ijin promosi novel judul: Amnesti Sang Eksekutor Aku hanya ingin satu malam pelarian untuk melupakan pengkhianatan mantan kekasihku. Sialnya, pria yang kutemui di bar dan hampir tidur denganku semalam adalah Arkana Wijaya, eksekutor perusahaan yang dikirim untuk memecat seluruh departemenku
Klan Qing
Izin promosi ya, Thor. Judulnya: Murid 3 Dewa. Novel ini menceritakan Petualangan Lin Chen menjadi Penguasa Semesta. Selain Reinkarnasi Jenderal Perang dari Alam 9 Surga, dia juga memiliki Tubuh Kaisar Langit yang Legendaris. Bahkan 3 Dewa Kuno juga mengangkatnya sebagai Murid mereka.
Baca Semua Ulasan
GARA-GARA DIMADU, AKU JADI NYONYA, KAMU JADI BABU.

GARA-GARA DIMADU, AKU JADI NYONYA, KAMU JADI BABU.

Cukup lama kepalaku tertunduk dan berpura-pura fokus mengerjakan sesuatu, rasanya cukup pegal hingga tubuh mulai mengeliat. "Apa yang sedang kamu kerjakan?" Aku melonjak kaget hingga memundurkan kursi. Sejak kapan bapak ada di sana? "Bukankah ini gambarku?" Mataku melotot pada gambar yang sedang dipegang bapak? "I-i-tu." Wajahku memerah dengan sendirinya, aku bahkan tidak sadar siapa yang telah kugambar. "Sketsa gambarmu cukup bagus, Gigi." Pujinya.
10100.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.3K kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status