JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU
“Jangan dibuka, Pak!”
Teriakan itu membuat tubuh Eyang tiba-tiba bergerak pelan, meraba-raba dinding dengan menyebut dan memanggil nama Bang Hasim. Detik itu kami berhamburan kembali, mengerumuni Eyang dan menjauh dari pintu. Semburat cahaya dari celah jendela memasung bibir, kami terhenti dan seolah menghentikan waktu manakala Bang Oar menuntun kami berdzikir. Ayo berdoa dengan tenang, bisiknya. Eyang mengamit lenganku dengan tubuh hangatnya, dia mengulang doa-doa yang aku sudah pelajari dulu. Katanya jangan berhenti, sampai angin berhenti berhembus kencang. Paklik memerika pintu dengan seksama, mengunci ganda dan menempelkan balok di kedua sisinya. Tak lupa kain gorden ia beri lapisan sa