Belenggu Asmara Tukang Kebun
“Aa memimpikan kehangatan dari dirimu, pondok mungil sederhana, malaikat-malaikat kecil, malam-malam yang riang…”
“Aa, mulai merayu lagi!”
Lalu Loulia membuang pandang ke arah sungai, pada bebatuan samar di bawah air yang meliuk-liuk tak letih. Loulia menyukai tempat ini, yang menghadirkan sunyi, tapi bukan sunyi yang selama ini ia benci. Sunyi yang memberinya ruang untuk mewarnai mimpi-mimpinya yang masih berupa coretan buram di kertas hayalan. Sesekali ia bisa merasakan angin dan dingin yang ringan seperti belaian. Loulia memilih tempat ini bila ia menginginkan perhatian. Loulia memilih tempat ini bila ingin berduaan dengan Yusuf tanpa adanya gangguan.