Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Kabur Saat Masa Iddah

Kabur Saat Masa Iddah

Membuang mahkota indah yang selama ini menghiasi kepala wanita itu yang tidak memakai hijab. Setelah itu Mira menangis di lantai sambil memeluk kedua lutut. Tangan besar Ahbek mengusap kepala gundulnya, lalu mengecupi kulit kepala wanita itu. Tangan Ahbek membersihkan sisa rambut di kepala Mira. Lalu setelah itu keluar sebentar dan naik ke kamar atas. Ahbek kembali dengan tumpukan hijab mendiang ibunya dalam dekapan dan dihamburkannya ke tubuh Mira yang tidak beranjak dari lantai sedari tadi karena memang tidak memiliki tenaga untuk itu.
2.9K viewsOngoingAdded to Library 116 Times as stop hibari-kun
Read
+Library
Kubalas Hinaanmu, Mas!

Kubalas Hinaanmu, Mas!

Wanita berhijab biru itu berkali-kali menyeka matanya yang basah. “Allah.” Arini terduduk setelah keluar dari swalayan. Kakinya terasa lemas. Kekhawatiran pada buah hati telah membuat jiwanya seolah terlepas dari raga. Dengan tangan gemetar, Arini mengambil ponselnya yang berbunyi. “Iya, Wid? Aku dalam perjalanan pulang.”
998.6K viewsCompletedAdded to Library 2.4K Times as stop hibari-kun
Read
+Library
COMEBACK

COMEBACK

Kata Vanda menghentikan langkahku. Aku menyerahkan ponselku yang sudah menunjukkan nomor kontakku yang bisa dihubungi. Vanda segera mencatat nomorku ada ponselnya. Kemudian dia terlihat mengirim sebuah stiker love padaku. Sial, sepertinya Vanda memang sengaja mengobrak-abrik pertahananku.
3.3K viewsOngoingAdded to Library 99 Times as stop hibari-kun
Read
+Library
Marga Kuromori

Marga Kuromori

Lagi, ucapan Pak Haede berhenti sebab bersin. Setelah dipikir lagi, Kasami juga memutuskan meminum teh hangat. Maka, dua cangkir dan satu teko teh penuh dihidangkan dengan nampan. Usai menyeruput teh, Pak Haede berdeham memberi tanda kepada putrinya bahwa obrolan mereka sebagai ayah dan anak segera dimulai. Berawal dari Pak Haede melihat biji kenari di samping futon Kasami yang belum sempat dibereskan, dan biji kenari itu membuat rasa kesal kepada Orochi membuncah.
103.6K viewsOngoingAdded to Library 143 Times as stop hibari-kun
Read
+Library
Hati Sang Bayangan

Hati Sang Bayangan

𝙈𝙤𝙢 <3: 𝙏𝙤𝙡𝙤𝙣𝙜 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙞 𝙄𝙗𝙪 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙃𝙖𝙣𝙣𝙖𝙝: 𝙆𝙖𝙠, 𝙖𝙥𝙖 𝙥𝙖𝙨𝙨𝙬𝙤𝙧𝙙 𝙡𝙖𝙥𝙩𝙤𝙥𝙢𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙣𝙞?
846 viewsOngoingAdded to Library 23 Times as stop hibari-kun
Read
+Library
Digerebek Saat Lagi Mendesah
Read
+Library
Hayu

Hayu

“Tapi tidak terjadi apapun di antara kami berdua, Hayu.” “Cukup, Bisma!” “I’m not trought yet!”
105.1K viewsCompletedAdded to Library 182 Times as stop hibari-kun
Read
+Library
Kunikahi Suamiku Tanpa Restu Ibunya

Kunikahi Suamiku Tanpa Restu Ibunya

Penghulu juga sudah mulai terdengar membacakan doa. Hatiku menghangat, jika tidak malu mungkin menangis karena terharu. Suara calon suamiku itu, sudah terdengar. Ia mengucapkan kalimat qabul setelah wali mengucapkan kalimat ijab. Perlu diketahui, bahwa ayahku belum datang. Bukan, ia memang tidak wajib datang karena dari awal tidak berhak menjadi wali.
1.7K viewsOngoingAdded to Library 55 Times as stop hibari-kun
Read
+Library
Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga

Booombb! Seperti namanya, Higanbana merupakan bunga Lily cantik yang melambangkan kematian di Jepang. Ledakan yang begitu dahsyat, bahkan sampai menghentikan pertarungan Marbun Bidara dan pria berjubah. Cahaya yang begitu terang dan menyilaukan, disusul gelombang sonic yang menggetarkan hutan yang dilaluinya. Mereka yang kabur terkena ujung ledakan, lalu tertancap oleh kristal yang menyebar. Kristal yang lebih runcing dan kuat, bahkan masuk ke dalam tubuh mereka sebelum meledak. Tergores saja belum tentu bisa selamat karena racunnya, ini malah meledak di dalam tubuh mereka. Tidak bisa dibayangkan bagaimana rasa sakitnya dikoyak dari dalam tubuh. Jika mengetahui itu akan terjadi, pasti mereka
1053.1K viewsCompletedAdded to Library 2.0K Times as stop hibari-kun
Read
+Library
HIATUS

HIATUS

Tubuhku yang hampir terjatuh ke belakang ditahan oleh lelaki itu, Tuan Harraz mengampit pinggangku sambil menggesekkan ujung hidungnya ke ujung hidungku. “Walaikumsalam warahmatullahhiwabarakatuh.” Lelaki itu menjawab, lalu menangkup wajahku lagi lebih erat. Tanganku tidak bisa bergerak saat bibirnya memangut. Secara bersamaan adzan Ashar terdengar dari menara rumah Tuan Harraz. Lelaki itu langsung menghentikan pergerakan tangan dan bibirnya, meski begitu masih ditatapnya aku selekat mungkin. Seakan sedetik usai adzan nanti Tuan Harraz akan melanjutkan apa yang tadi lelaki itu hentikan.
103.8K viewsOngoingAdded to Library 99 Times as stop hibari-kun
Read
+Library
PREV
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status