Di halaman rumah nenek, malam-malam setelah pemakaman selalu terasa penuh ritme—entah itu bunyi jangkrik atau panci yang beradu di dapur tetangga. Aku ingat, yang pertama dilakukan keluarga biasanya mengumpulkan orang-orang terdekat untuk membaca doa bersama; di kampungku itu sering berupa bacaan Yasin, tahlil, dan doa supaya perjalanan ruh dipermudah. Doa-doa ini kadang diadakan di rumah sebelum kuburan, lalu berlanjut di makam setelah tanah ditimbun.
Selain pembacaan, ada tradisi ’kenduri kecil’ yang penting: tetangga datang membawa nasi, lauk, atau kue untuk meringankan beban keluarga yang berduka. Di satu sisi ini terasa seperti kewajiban sosial, tapi di sisi lain, suasana makan bersama dan saling berbagi cerita tentang almarhum bisa jadi ruang penyembuhan emosional. Aku melihat bagaimana ritual sederhana itu mengubah kesunyian jadi kehangatan komunitas.
Ada juga kebiasaan yang lebih puitis dan kadang mistis—beberapa orang menyalakan dupa atau lampu kecil di sekitar kuburan malam pertama, sebagai tanda penghormatan dan juga upaya menjaga agar makam tidak sepi. Dan tentu saja, ada varian antar daerah; yang di kota seringkali lebih singkat dan formal, sementara di desa tradisi turun-temurun tetap awet. Bagi aku, inti dari semua ini bukan hanya ritual religius; melainkan saling hadir, mengingat, dan memberi ruang bagi keluarga yang ditinggalkan untuk bernafas di tengah duka.