Pawang Hati Mafia Kejam
"Tapi dia memilih hidup tanpa bayang-bayang. Dia belajar bahwa cinta yang kau berikan adalah anugerah, bukan hak."
Sabe menutup telepon, lalu kembali ke tanaman bunga di balkonnya. Ia tidak menyangka air matanya akan menetes. Air mata yang terasa hangat dan murni.
Sore harinya, Sabe duduk di galeri seninya, menyelesaikan sebuah lukisan. Lukisan itu menampilkan sebuah ruangan bawah tanah yang gelap, tetapi di tengahnya, bukan peti kayu, melainkan sepasang tangan yang saling menggenggam, dihiasi oleh sinar emas yang memancar dari luar bingkai.
Hot Chapters