Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Dua Tuan Tampan

Dua Tuan Tampan

Hujan masih mengguyur deras di luar jendela, memukul kaca dengan irama monoton, seolah menjadi latar bagi pengakuan pilu Arjuna Dirgantara. Raina duduk terpaku, menahan napas, matanya tertuju pada Arjuna yang kini duduk membelakanginya, menatap titik-titik air yang menuruni panel kaca. Suara piano yang melankolis masih bergaung samar di benaknya, kini dipenuhi makna yang jauh lebih dalam.
10879 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 18 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Rain

Rain

Namun, kejadian malam itu merubah hidupnya. Hujan menyadarkan Rain dari lamunan. Dia tidak menyukai hujan, apa pun alasannya Rain membenci tetes air yang turun dari langit. Baginya, hujan hanya membawa kenangan menyakitkan tentang hidupnya yang jauh dari kata bahagia. Namun, hari itu Rain tidak terlalu membenci hujan. Dia berjalan di bawah guyuran hujan sambil menyeret kopernya. Tubuhnya menggigil, tapi dia enggan berteduh karena hujan mampu menghapus semua lukanya.
103.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
The Lunar

The Lunar

“Maaf karena baru saja hadir di kehidupanmu.” Ucapan Selena membuat Rain tidak dapat menahan dirinya. Dibalik ekspresi dingin dan tegarnya, tersimpan jiwa yang rapuh. Rain menitikkan air mata kesedihan. Bibirnya bergetar dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
1051.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.5K kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
The Love MILLION tears

The Love MILLION tears

Hampir dua jam pria itu hanya duduk saja ditemani segelas kopi hangat. Ia melihat hujan turun tidak terlalu deras dari arah jendela. "I Miss You," ucap Ken berdiri menatap langit degan memegang segelas kopi. "Aku selalu melihat langit jika aku merindukan mu, dan aku pun merasa bahwa kau juga melihatku disini," Ken mengetuk jendela kaca dengan kuku-kuku di jarinya.
1014.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 295 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
PELAN PELAN SAYANG

PELAN PELAN SAYANG

Ia menutup wajah dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar di sudut kamar. Air matanya jatuh semakin deras, membasahi jemari. Dengan suara parau ia bergumam lirih, seakan Rain berada tepat di hadapannya. “Maaf, Mas... aku belum bisa baca pesan dari kamu... belum bisa jawab teleponmu... apalagi ketemu kamu. Aku... belum sanggup...” Isak tangisnya pecah, memenuhi ruangan yang sunyi. Namun di balik kesedihannya, kata-kata yang pernah dilontarkan ibu Rain terus terngiang, menoreh luka lebih dalam.
10490.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 10.3K kali sebagai tears in rain monologue
Tampilkan Ulasan (44)
Baca
+Pustaka
Dara Tresna Anjasmara
Dear pembaca, selamat tahun baru 2026. Rain dan Gendis, bakal pamitan nih... mohon maaf kalau cerita mereka kurang menarik, ya. mohon maaf juga kalau ada komentar yang nggak dibalas. Menuju tamat, boleh DM atau isi kolom balasan request sama kita, endingnya mau seperti apapun itu, bebas.
Alan Nasution
bukannya mmbenarkan seorang pembunuh dan komplotannya bebas , tpi aneh aja klo rain brkhir di jeruji besi. ksian gndis , apalagi yg senglek cuma sikap rain balas musuhnya yg ngusik dia duluan. happy ending aja buat rain dan gendis. dan ini hnya novel , mhon pmbca jngan tiru buruknya,ambil baiknya aj
Baca Semua Ulasan
Menari Bersama Hujan

Menari Bersama Hujan

Tetapi akhirnya, ia tidak bisa lagi menahannya. Air mata jatuh, satu per satu, membasahi pipinya. Ia berlutut di lantai kayu, membiarkan tangisnya pecah. ———• Di luar studio, Rain berdiri diam, menatap ke dalam melalui kaca kecil di pintu.
697 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Menjadi Ibu Pengganti untuk Anak CEO

Menjadi Ibu Pengganti untuk Anak CEO

Mereka mulai bicara tentang masa depan—dengan langkah kecil, luka yang belum sembuh, dan harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali. Hujan turun sejak sore, membasahi seluruh pelataran rumah dengan ritme yang nyaris meditatif. Suara gemericik air yang memukul genteng seolah membisikkan sesuatu yang tak terucap—kenangan, penyesalan, dan segala yang belum selesai. Di ruang tengah, Noah duduk sendirian di dekat jendela, memandangi tetesan hujan yang menuruni kaca dengan pandangan kosong.
108.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 293 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Nature Squad

Nature Squad

Biarlah pemuda itu sendiri yang mengatakannya. Setelah merasa sedikit tenang, Rain kembali menatap pantulan dirinya yang berantakan. Mata merah dan sembab, rambut depan yang basah karena ia terus mencuci wajahnya untung menghilangkan jejak anak sungai dari pelupuk obsidian kembarnya. “Aku kuat! Rain bukan gadis cengeng!” ucapnya. Dia menarik bibirnya agar tersenyum, kembali bersandiwara seakan tidak mengetahui apapun.
105.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 178 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Malam Pertama Di Hari Perpisahan

Malam Pertama Di Hari Perpisahan

Tetes hujan yang beradu dengan kayu memercik ke wajah Raina yang pucat. Raina menatap sekitarnya dengan nanar. Tak ada orang. Jalanan begitu sepi. Tiba-tiba dia merasa sendirian berada disini. Tidak akan ada yang bisa menolongnya dari derasnya hujan dan sakit yang saat ini ia rasakan. "Astaghfirullah, aku tidak boleh sensitif seperti ini.." ucap Raina dalam batinnya. "Aku harus kuat!" Raina memejamkan matanya, tubuhnya melemah.
1069.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.7K kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Adiptara Family's

Adiptara Family's

Ditatapnya mata gelap itu dengan keyakinan, menanamkan kepercayaan bahwa Rain asli akan mendengarnya, lantas berteriak sekali lagi, "Rain, sadarlah dan tolong aku!" Cukup lama jeda terjadi dan kebisuan merebak diantara kedua anak manusia berbeda gender tersebut. Anya yang sudah berharap sosok Rain asli akan segera kembali, seketika menjadi lesu saat Blood Rain lagi-lagi tertawa mengejek tepat di depan wajahnya. Kali ini jauh lebih keras.
9.922.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 816 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status