Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Istri Kecilku Bos Mafia

Istri Kecilku Bos Mafia

Sementara Rain, masih merebahkan tubuhnya di sofa dengan malas. Banyak menangis membuatnya kehilangan cukup energi dan membuatnya lemas. Menangis hebat seperti itu tidak pernah ia lakukan setelah dirinya menjadi seorang Rain. Yang ada hanya keringat dan darah yang mewarnai perjalanannya mencari jati diri. “Rain, bangunlah. Minum dulu atau kau akan muntah lagi." ucap Reed lagi. “Aku lelah, Kak. Aku mau tidur saja." racaunya dengan mata tertutup dan malah mengubah posisinya menjadi miring.
1018.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 528 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Bentala dan Nabastala

Bentala dan Nabastala

Rain memutuskan untuk beristirahat, mengambil posisi duduk dengan sembarang dan meluruskan kakinya. Tangannya menggenggam batu kerikil yang ada di samping kaki kanannya. “Ya Tuhan! Gue tadi jatuh kan ya? Yang jatuh gue kan ya? Iya kan yang jatuh badan gue kan? Nggak mungkin kalau hati gue yang jatuh. Tapi kenapa badan gue nggak sakit, malah hati gue yang sakit ini deg-degannya kayak mukul beduk.” ucap Rain kepada diri sendiri dengan wajahnya yang merona.
2.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 88 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Dihamili Suami Saudara Kembarku

Dihamili Suami Saudara Kembarku

Aleza meletakkan ponsel di dada, menutup matanya, air matanya menetes di pipi, tapi suaranya kini lebih tenang, lebih pelan, seperti bisikan terakhir dari seseorang yang nyaris menyerah. “Aku mencintaimu, tolong jangan lepaskan aku, Javier. Aku mohon.” Ia tersenyum samar di antara tangisnya, lalu menatap langit-langit kamar yang gelap. Di luar jendela, hujan mulai turun perlahan, mengetuk kaca yang masih utuh di sisi kiri ruangan. Hujan pertama setelah pesta.
103.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 135 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Skandal Suamiku

Skandal Suamiku

Air mata Aretha kembali mengucur dengan derasnya membasahi kedua pipinya, karena diguyur oleh derasnya air hujan sehingga tidak terlihat dengan jelas oleh orang lain. "Aretha, kamu boleh sedih tapi bukan begini caranya! Pikirkan juga kesehatan dirimu sendiri!" Bentak Tasya merasa iba melihat keadaan Aretha. "Sejak awal aku dan Mas Alvarendra tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku Sendiri yang tidak bisa menahan perasaanku sehingga terjebak dalam kelembutan serta kasih sayangnya." Monolog Aretha menggerakkan badannya menari-nari di bawah derasnya air hujan.
5.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 170 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
In The Rain

In The Rain

"Gak punya telinga lo gue ketok dari tadi gak di buka-buka!" "Bacot!" ketus Starla membuat Ryan spontan melotot. "Mulut lo kaya gak pernah di sekolahin!" Ryan melotot kaget. "Kalau gak ada urusan mending pergi, aku lagi mau sendiri." Starla menutup pintu kamarnya yang segera di cegah Ryan. Ryan mengamati sisa air mata di wajah Starla. "Kenapa lo?" "Nangis kenapa lo?" ulang Ryan.
101.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 33 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Dance in the Rain

Dance in the Rain

Kepalang malu, aku mengajukan pertanyaan lain hanya untuk mendapat tanggapan dari gadis yang masih menunduk di depanku. Rain memang sudah tak menangis, tapi tetap saja ia masih tak bisa diajak berbicara selayaknya manusia pada umumnya. Mungkin masih cukup syok akibat hujan yang turun tiba-tiba. "Rain?" Aku memanggil gadis itu sekali lagi. Tapi, tetap tidak ada sahutan. 'Apa aku harus membiarkannya dulu?' bisikku dalam hati. Sejujurnya, aku tak bisa memosisikan diri sekarang. Rain bukanlah seperti cewek kebanyakan yang bakal luluh begitu saja hanya dengan kalimat penghiburan.
103.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 76 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Semakin Red Flag Semakin Cinta

Semakin Red Flag Semakin Cinta

Ia dihadapkan pada kenyataan pahit yang membenturkannya pada realita. "Tapi aku masih nggak percaya." Rain mengerang sedih. "Bunda juga, tapi nggak ada yang nggak mungkin terjadi di dunia ini selagi masih ada Tuhan." Kanayya lalu menengadah menatap langit-langit ruangan menahan air mata yang hampir tumpah.
920.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 433 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
PELAN PELAN SAYANG

PELAN PELAN SAYANG

Ia menutup wajah dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar di sudut kamar. Air matanya jatuh semakin deras, membasahi jemari. Dengan suara parau ia bergumam lirih, seakan Rain berada tepat di hadapannya. “Maaf, Mas... aku belum bisa baca pesan dari kamu... belum bisa jawab teleponmu... apalagi ketemu kamu. Aku... belum sanggup...” Isak tangisnya pecah, memenuhi ruangan yang sunyi. Namun di balik kesedihannya, kata-kata yang pernah dilontarkan ibu Rain terus terngiang, menoreh luka lebih dalam.
10506.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 10.6K kali sebagai tears in rain monologue
Tampilkan Ulasan (46)
Baca
+Pustaka
Zizizaq
Kakak Author ini ceritanya bagus-bagus. Suka semua. BTW aku juga Author, tapi masih keren kamu. Salam kenal, Kak. Baca juga karya Zizizaq. 1. Antara mencintai dan melupakan (tamat 2. Nikah Kontrak berbuah cinta (tamat 3. Wanita ketiga duda kaya (tamat 4. Siksaan dari tunangan kakakku
Nama Pena Anar
Izin promo kak🫰🏻 Novel Panas tentang Petarung Jalanan yg menaklukan Nyonya Besar! Judul ... Suami Pengganti: Petarung Jalanan di Ranjang Nyonya Besar Betewe suka ceritanya kakk daraa...... makasi kakkk
Baca Semua Ulasan
Pernikahan Palsu

Pernikahan Palsu

Ujar Abe sambil setengah melotot Rain yang ingat saran Ibu Yani kemudian memasang wajah nangis, "Kenapa kau jadi galak sih, aku kan cuma nanya" "Aaaaah sudah lah, kenapa kau ini" Abe nampak tak suka melihat ekspresi wajah Rain, dia kemudian kembali kemeja ruang tengah dan kembali bekerja.
105.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 139 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Dua Tuan Tampan

Dua Tuan Tampan

Hujan masih mengguyur deras di luar jendela, memukul kaca dengan irama monoton, seolah menjadi latar bagi pengakuan pilu Arjuna Dirgantara. Raina duduk terpaku, menahan napas, matanya tertuju pada Arjuna yang kini duduk membelakanginya, menatap titik-titik air yang menuruni panel kaca. Suara piano yang melankolis masih bergaung samar di benaknya, kini dipenuhi makna yang jauh lebih dalam.
101.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 21 kali sebagai tears in rain monologue
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status